Kepanikan warga yang desanya terancam lumpur

Oleh: Lee Giman – Jatinom

Dengan tambah melubernya Lumpur Lapindo yang mengancam desa-desa di sekitar pusat semburan menimbulkan kepanikan dalam diri banyak warga yang menghuni beberapa desa yang sampai saat ini belum terkena lumpur. Akhirnya warga ketakutan, bagaimana kalau Lumpur Lapindo ini juga menengelamkan desanya. Pertanyaan semacam ini yang selalu menjadi beban bagi mereka? Bila desa mereka tenggalam apa tindakkan yang harus mereka lakukan? Apakah mereka akan mengalami masalah yang sama dengan warga yang sudah tenggelam desanya?

Dari sinilah warga harus dibangun kesadaran bahwa yang mereka hadapi sekarang adalah Lapindo. Akibat ulah para pejabat Lapindo dan pemerintah maka banyak warga yang menjadi sengsara. Apakah warga harus diam saja dan membiarkan lumpur panas menenggelamkan desanya ataukah menyelamatkannya desanya dari ancaman bahaya lumpur panas? Kalaulah warga memang tidak kuasa menahan luberan lumpur panas tersebut sehingga menenggelamkan desanya seperti halnya warga lain yang desanya sudah tenggelam saat ini. Apakah warga sudah siap menghadapi permasalahan-permasalahan seperti yang saat ini dihadapi oleh warga yang desanya sudah tenggelam?
Baca entri selengkapnya »

Perum TAS 1 bergerak lagi!

Warga Perum TAS I tempo hari sudah mendapat keputusan tentang tuntutan ganti rugi terhadap mereka. Tuntutan yang mereka sampaikan dan mereka maksud adalah ganti rugi dengan system cash and carry tanpa memakai uang muka 20 %. Sebagian besar warga Perum TAS I menginginkan seperti itu. Pada saat rapat kemarin di Kantor Bapekkab Sidoarjo dengan materi pembahasan tentang system pembayaran 20 % tersebut. Warga Perum TAS I melakukan protes pada perwakilan mereka yang mengikuti rapat, sebab wakil dari warga Perum TAS tidak pernah menyampaikan keinginan mereka kepada Pemerintah dan Lapindo bahwa warga tidak menginginkan uang muka 20%. Warga menginginkan langsung di bayar 100%.

Kondisi inilah yang kemudian memicu adanya rasa ketidakpercayaan kepada Tim 16 yang selama ini menjadi wakil mereka dalam rapat-rapat dengan pihak pemerintah dan Lapindo untuk memperjuangkan tuntutan warga mengenai ganti rugi. Rasa ketidakpercayaan kepada para wakil warga tidak hanya terjadi di perum TAS 1 saja tapi juga terjadi di desa-desa lain. Banyak warga yang mengalami krisis kepercayaan kepada aneka tim yang dibentuk oleh pemerintah atau yang semula dipercaya oleh warga.
Baca entri selengkapnya »

Selamat membaca..!

Kali ini, kami akan lebih banyak mengulas tentang bagaimana penderitaan warga korban Lumpur Lapindo. Yang pada kenyataannya, sampai sekarang nasibnya masih terkatung-katung, hidup dengan nasib yang tidak menentu.

Hal ini disebabkan oleh tidak konsistennya Bupati Sidoarjo dan Ketua Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur Lapindo dalam mengawal dan menfasilitasi warga, untuk mendapat kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan syarat administrasi. Sebab dua orang atau lembaga inilah yang kemarin-kemarin meloloskan keputusan cash and carry. Karena, mereka sudah paham bahwa jual beli tanah akan diakui oleh hukum kalau berdasarkan sertifikat. Hal inilah yang tidak pernah masuk dalam perhitungan para warag yang menjadi kurban lumpur.

Intinya, mereka terkesan tidak dalam keseriusan yang cukup untuk membantu warga dalam menyelesaikan kasus Porong ini, terutama dalam masalah dampak sosialnya. Intinya mereka tidak pernah berpihak kepada warga.

Selamat membaca..!

(ada sedikit perubahan dari teks aslinya)

plesetan mzm 137

Di kios-kios pasar baru Porong, disanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita  mengingat Jatirejo, Siring, Mindi, Ronokenongo

Pada pohon-pohon mangga di tempat itu kita menggantungkan cangkul kita

Sebab di sanalah orang-orang yang mengusir kita dengan lumpur meminta kepada kita

Untuk tabah dalam becana, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta kita untuk bersuka cita: “Bukankah uang ganti rugi sudah sangat besar bagimu?”

Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian suka cita di kios-kios pasar baru Porong?

Jika aku melupakan engkau, hai Jatirejo, Mindi, Ronokenongo, Siring, biarlah menjadi kering tangan kananku!

Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak menjadikan tanah kelahiranku puncak suka citaku!

Ingatlah ya TUHAN kepada pemilik Lapindo-Brantas, yang pada hari pemusnahan Porong mengatakan: “Tenggelamlah, tenggelamlah oleh lumpur sampai ke dasarnya supaya dapat kukeruk tambangnya!”

Hai, Timnas, pemerintah, dan pemilik Lapindo Brantas, yang suka melakukan tekanan dan penipuan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kalian lakukan kepada kami

Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu!

salam

gani
jangan ditanggapi serius namanya juga plesetan

Rumahku penuh lumpur

Seorang ibu muda dengan terisak mengatakan, “Bila saya ditanya apa yang saya butuhkan, maka saya tidak tahu apa yang saya butuhkan. Saya hanya butuh rumah saya kembali.” Ibu ini adalah salah satu kurban semburan lumpur Lapindo, Porong. Dia menceritakan seminggu yang lalu dia bersama anak dan suaminya masih makan bersama di ruang makan yang kecil. Menonton TV bersama setelah seharian bekerja. Bernyanyi bersama para tetangga untuk mempersiapkan misa Natal.

Tapi sekarang semua tidak dapat dilakukan kembali. Rumahnya sudah tergenang lumpur. Dia harus meninggalkan rumah yang dibeli ketika masih pacaran. Rumah yang menjadi saksi bisu suka duka membangun keluarga baru. Di rumah itu dia melahirkan anak semata wayang. Mengasuh anaknya dan membangun masa depan. Semua musnah begitu saja akibat lumpur yang terus mengalir dan menggenangi rumahnya.

Baca entri selengkapnya »

Relokasi sementara – Cash and Carry

Hampir sepuluh bulan sudah lumpur Lapindo menghancurkan beberapa desa, di Kecamatan Porong. Dan Hampir sepuluh bulan itulah korban luapan lumpur lapindo harus menanggung penderitaan dan hidup dengan tanpa kepastian tentang nasib mereka. Bagaimana nasib warga ini, Lapindo dan pemerintah belum melakukan apa-apa yang cukup berarti untuk menyelesaikan dampak sosial yang dialami oleh korban lumpur lapindo tersebut. Dan sampai sekarang yang dirasakan oleh warga korban lumpur lapindo ini adalah penderitaan, yang tidak mereka ketahui ujungnya.

Bahkan korban yang kemarin sudah dijanjikan akan  di ganti rugi dengan system cash and carry (bayar tunai) sampai sekarang belum ada kepastian yang jelas. Padahal Presiden Susilo Bambang Yudoyono juga ikut menekan pihak Lapindo untuk segera merealisasikan ganti rugi dengan system cash and carry itu, dan segera dilaksanakan dengan batas waktu bulan Maret. Tapi sampai sekarang belum ada titik-titik kejelasan yang pasti dan mampu memberikan angin segar bagi korban secara menyeluruh.

Baca entri selengkapnya »

Asem-nya Asam Sulfida Lumpur Lapindo

Jika orang di sekitar porong diminta mengalihbahasakan kata asam ke dalam bahasa Jawanya tentu mereka dengan serempak menjawab asem (asem adalah buah yang rasanya masam sekali). Jika mereka disuruh mengalihbahasakan ke dalam bahasa Jawa asam sulfida, tentu mereka bertanya-tanya apa itu. Tapi jika dijelaskan bahwa asam sulfida itu asapnya lumpur panas Lapindo yang sekarang menggenangi wilayah mereka, tentu mereka tidak ada waktu untuk menjawabnya, karena mereka sudah terlebih dahulu terkena dampaknya. Bahkan rasa masamnya!

Baca entri selengkapnya »