Ada yang berubah pada nama buletin ini. Atas usulan dari beberapa kerabat dan pembaca mengenai nama. Maka nama buletin yang semula “Suara Lumpur Porong” kami ubah menjadi “Suara Porong”. Hal ini disebabkan pemikiran bahwa lumpur tidak dapat bersuara, tetapi kami yang menjadi kurban lumpur yang dapat bersuara. Lumpurlah yang menyebabkan kami bersuara. Selain itu agar tidak tampak menjadi milik satu desa, maka kami gunakan nama Porong meski sebetulnya kurban lumpur bukan masyarakat Porong secara keseluruhan.
Dalam rangka refleksi satu tahun semburan lumpur Lapindo redaksi “Suara Porong” mengucapkan turut berbelasungkawa atas kesedihan tak berujung para korban dan mendukung apapun yang dilakukan oleh para korban untuk memperjuangkan hak yang telah di rampas akibat kecerobohan dan keserakahan tangan manusia Lapindo.
Redaksi mengucapkan permohonan maaf atas keterlambatan terbitan buletin “Suara Porong”. Kami yang juga korban tentu punya aktifitas terkait tuntutan yang tak bisa ditinggalkan. Semoga di edisi selanjutnya “Suara Porong” dapat terbit lebih cepat.
Dengan bersatu raihlah kemenangan bersama…!!!



![Lazy Lass [eXPLoReD] Lazy Lass [eXPLoReD]](http://static.flickr.com/7083/7272226034_3d95aba441_t.jpg)
