Oleh : Zainul
Pada waktu Lumpur panas mulai masuk ke sungai warga dusun Jatianom Kelurahan Jatirejo yang letaknya tepat di sebelah utara semburan lumpur panas warga sangat panik. Warga takut lumpur akan masuk ke dalam kampung mereka. Saat itu para pemuda dan bersama-sama semua warga berusaha menyelamatkan desa. Mereka berusaha mendatangi kantor lapindo agar pihak Lapindo mendatangkan sirtu (pasir dan batu) serta alat berat untuk membuat tanggul agar lumpur tidak masuk ke kampung Jatianom.
Ternyata apa yang dilakukan..? Lapindo hanya mendatangkan sirtu saja, tanpa alat berat. Maka dengan terpaksa warga menggunakan alat-alat seadanya, seperti cangkul dan sekrop untuk membuat tanggul. “Babah soroh, poko’e desoe slamet,” (Biar susah pokoknya dapat menyelamatkan desa). Kalimat itulah yang mejadi prinsip warga. Setiap hari dari pagi hingga malam hari, warga melakukan upaya untuk menyelamatkan desanya. Semua itu tanpa dibayar sepeser pun oleh pihak Lapindo dan pemerintah. Warga lebih mementingkan keselamatan kampungnya dari pada upah uang dari Lapindo dan pemerintah.
Namun semburan dan lumberan lumpur panas semakin membesar dan semakin mengancam keberadaan desa Jatirejo. Sekali lagi warga ngotot (memaksa dengan keras) meminta alat berat pada pihak Lapindo. Akhirnya diberi satu alat berat. Mungkinkan sebuah alat berat untuk membuat sebuah tanggul? Perjuangan warga dan pemudanya tidak mampu menghentikan luapan lumpur yang semakin besar.
Setelah lumpur meluas baru pihak Lapindo serius membangun tanggul yang besar meski tampak tergesa sehingga seperti tanggul darurat. Setelah tanggul dibangun masih ada kecemasan sebab tanggul dapat setiap saat jebol. Maka para pemuda dan warga sudah berusaha berunding dengan pihak Lapindo agar segera mengatasi semburan lumpur yang semakin membesar. Warga juga sudah bersiaga penuh siang dan malam untuk berjaga secara bergantian agar bila tanggul jebol maka mereka segera tahu. Semua itu dilakukan warga tanpa dibayar sedikitpun oleh pihak manapun juga. Ini hanya didorong semangat warga untuk mempertahankan desanya.
Akhirnya tanggul besar pun jebol. Dalam waktu hanya sekitar 3 jam saja desa Jatirejo tenggelam lumpur setinggi 2-3 m. Desa yang semula tenang tiba-tiba riuh. Orang berusaha berlarian berusaha menyelamatkan diri dan apa saja yang dapat diselamatkan. Namun meski demikian banyak harta benda yang musnah tenggelam. Tempat kerja hilang. Sawah yang memberi kehidupan hilang dalam waktu sekejap. Apakah ini disengaja oleh Lapindo untuk mengusir warga yang sejak awal sudah menolak Lapindo untuk mengadakan pengeboran di desanya? Berapa kerugian yang harus ditanggung oleh warga? Mengapa hanya diganti uang bangunan dan tanah? Bagaimana tempat kerja seperti sawah, ladang, toko yang hilang?
Melihat perjuangan warga yang begitu berat dan sangat melelahkan dan di campur dengan bau lumpur yang sangat menyesakkan dada namun akhirnya perjuangan warga dan pemuda Jatirejo terhenti karena tanggul yang selama ini di jaga untuk menahan lumpur agar tidak masuk desa Jatirejo akhirnya jebol juga..! Ingatkah perjuangan kita dulu saudara saudaraku..? dari dulu tujuan kita hanyalah mempertahankan tanah leluhur. Tak sakitkah engkau melihat tanah leluhurmu di jajah.? tak sedihkah engkau melihat anak-anak yang dahulu bahagia bermain bersama teman-temannya, sekarang harus sendiri di rumah kontrakan? Tak sakitkah dirimu diusir secara paksa dari kampung halamanmu? Tak bersedihkah dirimu melihat kuburan leluhurmu hilang karena tenggelam oleh lumpur Lapindo?
Wahai saudara-saudaraku, sedih sekali rasanya, kalau mendengar cerita-cerita orang tua kita, bagaimana para leluhur kita mewujudkan desa Jatirejo yang damai, rukun dan sejahtera. Tapi kini semua kenangan itu telah hilang, Jatirejo yang damai dan sejahtera telah tenggelam di telan lumpur yang diakibatkan oleh keserakahan dan keganasan manusia, yang menguasai perusahaan yang bernama Lapindo.