Rumahku penuh lumpur

Seorang ibu muda dengan terisak mengatakan, “Bila saya ditanya apa yang saya butuhkan, maka saya tidak tahu apa yang saya butuhkan. Saya hanya butuh rumah saya kembali.” Ibu ini adalah salah satu kurban semburan lumpur Lapindo, Porong. Dia menceritakan seminggu yang lalu dia bersama anak dan suaminya masih makan bersama di ruang makan yang kecil. Menonton TV bersama setelah seharian bekerja. Bernyanyi bersama para tetangga untuk mempersiapkan misa Natal.

Tapi sekarang semua tidak dapat dilakukan kembali. Rumahnya sudah tergenang lumpur. Dia harus meninggalkan rumah yang dibeli ketika masih pacaran. Rumah yang menjadi saksi bisu suka duka membangun keluarga baru. Di rumah itu dia melahirkan anak semata wayang. Mengasuh anaknya dan membangun masa depan. Semua musnah begitu saja akibat lumpur yang terus mengalir dan menggenangi rumahnya.

Baca entri selengkapnya »

Relokasi sementara – Cash and Carry

Hampir sepuluh bulan sudah lumpur Lapindo menghancurkan beberapa desa, di Kecamatan Porong. Dan Hampir sepuluh bulan itulah korban luapan lumpur lapindo harus menanggung penderitaan dan hidup dengan tanpa kepastian tentang nasib mereka. Bagaimana nasib warga ini, Lapindo dan pemerintah belum melakukan apa-apa yang cukup berarti untuk menyelesaikan dampak sosial yang dialami oleh korban lumpur lapindo tersebut. Dan sampai sekarang yang dirasakan oleh warga korban lumpur lapindo ini adalah penderitaan, yang tidak mereka ketahui ujungnya.

Bahkan korban yang kemarin sudah dijanjikan akan  di ganti rugi dengan system cash and carry (bayar tunai) sampai sekarang belum ada kepastian yang jelas. Padahal Presiden Susilo Bambang Yudoyono juga ikut menekan pihak Lapindo untuk segera merealisasikan ganti rugi dengan system cash and carry itu, dan segera dilaksanakan dengan batas waktu bulan Maret. Tapi sampai sekarang belum ada titik-titik kejelasan yang pasti dan mampu memberikan angin segar bagi korban secara menyeluruh.

Baca entri selengkapnya »

Asem-nya Asam Sulfida Lumpur Lapindo

Jika orang di sekitar porong diminta mengalihbahasakan kata asam ke dalam bahasa Jawanya tentu mereka dengan serempak menjawab asem (asem adalah buah yang rasanya masam sekali). Jika mereka disuruh mengalihbahasakan ke dalam bahasa Jawa asam sulfida, tentu mereka bertanya-tanya apa itu. Tapi jika dijelaskan bahwa asam sulfida itu asapnya lumpur panas Lapindo yang sekarang menggenangi wilayah mereka, tentu mereka tidak ada waktu untuk menjawabnya, karena mereka sudah terlebih dahulu terkena dampaknya. Bahkan rasa masamnya!

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.